Sabtu, 11 Juli 2009

Demokrasi dan Kebudayaan Indonesia

ALMARHUM Prof Dr Koentjaraningrat adalah cendekiawan Indonesia terkemuka. Seorang antropolog Indonesia yang keahlian dan sosoknya dihargai dan diakui oleh kalangan antropolog mancanegara. Ia salah satu dari sedikit ilmuwan dan cendekiawan kita yang benar-benar dalam arti yang sejatinya adalah seorang ilmuwan terkemuka dalam bidangnya serta sekaligus seorang cendekiawan.

Tidak banyak sosok seperti almarhum. Barangkali yang segera kita setuju sosok sebanding dia di antaranya adalah almarhum Prof Dr Selo Soemardjan dan Prof Dr Sartono Kartodirdjo, yang satu seorang sosiolog terkemuka, yang lain ilmuwan sejarah.

Almarhum belajar melakukan penelitian dan menulis. Penelitian lapangan yang di antaranya dilaksanakan di Papua terkenal. Demikian pula berbagai karya ilmiah, termasuk buku-buku. Mendalam, luas, kritis, dan memberikan kontribusi.

Prof Koentjaraningrat juga seorang cendekiawan. Minat dan kepeduliannya yang penuh empati lagi kritis menempatkannya sebagai seorang intelektual sejati. Pengetahuan dan ilmunya, termasuk hasil penelitiannya, dikontribusikan untuk memahami lingkungan budaya dan sosok masyarakat.

Sikap dan gaya hidupnya yang serba sederhana dan seperlunya mencerminkan sikap dan sosok seorang cendekiawan yang asketis. Kita yang semakin hidup dalam dunia serba reproduksi sosok, gaya, dan pola hidup serba simbol amat paham makna dari teladannya. Tepat dan pantas, para murid menghargai gurunya. Ia bukan saja guru besar ilmu antropologi. Almarhum adalah guru besar masyarakat bangsanya. Benar-benar guru karena pantas ditiru.
KITA perlu menyikapi secara pro-aktif dan secara kritis fenomena sejarah kontemporer yang sangat besar dampaknya ialah globalisasi. Asosiasi globalisasi dewasa ini mau tidak mau berlangsung dengan revolusi teknologi komunikasi. Juga dengan ekonomi global yang ditandai oleh luas dan intensifnya peredaran dan pasar uang antarnegara. Masih juga berasosiasi dengan ilmu pengetahuan, teknologi, industri, dan perdagangan.

Amat menonjol dalam perkembangan itu hadir dan berperannya ekonomi pasar, jaringan, serta para pelaku bisnis. Orang bilang ekonomi pasar yang berkerangka faham ekonomi neoliberal.
Dampak dan akibatnya tampak, dramatis dan tragis karena tidak lagi sembunyi dan disembunyikan. Kondisi perikehidupan dunia diangkat di atas panggung dunia yang terbuka. Tidak ada kondisi, baik atau buruk, positif atau negatif, yang bisa lalu begitu saja. Lewat beragam perangkat teknologi informasi modern semuanya dan di sudut penjuru dunia mana pun serta-merta tampak di atas panggung terbuka. Bermiliar penduduk dunia menyaksikannya.
Adalah benar, globalisasi membangkitkan pengaruh dan akibat besar. Acap kali dramatis. Salah satu contohnya adalah aksi kekerasan teror. Contoh lain ialah maraknya perikehidupan serba tanda dan gaya. Pola hidup konsumtif. Fenomena mall dan aneka macam kesempatan dan lompatan sukses serba cepat .

Globalisasi membawa kemajuan dan kemakmuran, namun menurut kenyataannya, terlepas dari faktor-faktor latar belakang dan penyebabnya, globalisasi juga mengakibatkan kesenjangan kehidupan warga dunia yang bertambah. Ada gejala baru kemiskinan, marjinalisasi dan ketinggalan semakin jauh. Bagaimana kita bisa membaca dan menyikapinya? Logis masuk akal jika ulangi kembali sikap kita yang menentang dan menyalahkan pihak sana. Tepat benar jika kita kembali melemparkan tanggung jawab dan kesalahan kepada pihak sana, pihak luar. Seperti dulu kita menyalahkan secara benar dan tepat kolonialisme, dependence dan rasisme.
Akan tetapi, belajar dari pengalaman kemarin, tidaklah cukup dan tidak pula menyelesaikan persoalan kita jika kita hanya mengambil sikap menyalahkan pihak sana. Kita haruslah mengambil pemahaman dan sikap lain.

Di antaranya seperti yang tercantum dalam referensi singkat Koentjaraningrat Memorial Lecture ini: "Namun di samping itu kita juga berpendapat bahwa upaya membangun kebudayaan Indonesia yang dirancang secara sadar-a creation by design and not by default-untuk mengatasi berbagai persoalan yang kita hadapi sekarang ini merupakan satu hal yang tidak boleh terabaikan. Jalan keluar dari tatanan global tidak cukup hanya dengan upaya mengubah struktur tatanan dunia. Hal itu harus dibarengi oleh satu usaha bersama untuk memperbaiki kemampuan yang ada dalam diri kita sendiri dan oleh karenanya kebudayaan menjadi satu hal yang sangat sentral sifatnya".

Tepat, cerdas, dan kena formulasi itu. Persoalan dan jawaban atas persoalan itu mencuat lagi dalam dasawarsa terakhir ini. Adalah Samuel P Huntington yang bercerita: dalam tahun 1990-an kebetulan ia membaca data ekonomi Gana dan Korea Selatan. Data dua negara dalam tahun 1960 itu setingkat. Penghasilan per kapitanya sama. Sama pula pembagian ekonominya dalam produksi primer, manufaktur, dan jasa. Sama ekspor bahan mentah, Korea Selatan lebih disertai ekspor barang jadi sedikit.

Tiga puluh tahun kemudian, kata Huntington, Korea Selatan tumbuh sebagai negara raksasa industri, ekonomi terbesar nomor 14 di dunia, pendapatan per kapita mendekati Yunani dan lebih lagi Korea Selatan menempuh jalan demokrasi! Mengapa? Ia jawab dengan judul tulisannya Cultures Count Samuel Huntington, Lawrence E Harrison, serta sejumlah ilmuwan terkemuka bersama- sama menjawab Culture Matters dengan judul tambahan How values shape human progress.

Jawaban itu berbentuk buku yang diterbitkan oleh Universitas Harvard pada tahun 2000. Buku yang diedit oleh Lawrence E Harrison dan Samuel P Huntington-keduanya dari Harvard-adalah laporan dan hasil seminar yang diprakarsai oleh kedua ilmuwan itu di Harvard pada tahun 1998. Culture matters atau dalam bahasa para pemrakarsa Koentjaraningrat Memorial Lecture ini "membangun kebudayaan Indonesia yang dibangun secara sadar". By design not by default. Memperbaiki kemampuan yang ada dalam diri kita dan oleh karenanya kebudayaan menjadi satu hal yang sangat sentral sifatnya.

DILETAKKAN dalam konteks reformasi, kita perlu berupaya mencari cul- tural map to recovery. Disertai kerangka yang lebih komprehensif: Democracy and Indonesian Cultures. Questioning their Compatibility for Building our Nation’s Resilience. Pengalaman empiris memberi pelajaran dan pengalaman. Korea Selatan dan Gana, negara-negara sedang berkembang yang dalam tahun 1960-an setingkat perkembangan ekonominya, kini kondisi ekonominya jauh berbeda.
Mengapa, padahal secara umum keadaan dan lingkungannya adalah sama. Ceteris paribus-negara yang satu maju pesat, sementara yang lain terpuruk.

Tentu saja tidaklah mungkin hanya berlaku satu faktor, bahkan juga tidak terbatas satu, dua, tiga, faktor. Lingkungan domestik maupun regional tidak mungkin tanpa perbedaan.
Toh, ditemukan dan disepakati hadirnya faktor yang berperan sentral, yakni kebudayaan. Disepakati culture matters. Pandangan itu juga semakin dihidupkan lagi oleh bangsa- bangsa lain. Misalnya di negara-negara Amerika Latin. Ada paradigma baru, tulis Lawrence Harrison, "suatu teori yang melihat ke dalam dan berpusat pada nilai-nilai dan sikap kultural. Pandangan baru itu lambat laun mengisi vakum yang ditinggalkan oleh runtuhnya teori dependensi".
KEBUDAYAAN mencakup suatu pemahaman komprehensif yang sekaligus bisa diurai dan dilihat beragam variabel dan cara memahaminya.

Kebudayaan dalam arti suatu pandangan yang menyeluruh menyangkut pandangan hidup, sikap, dan nilai. Atau menurut deskripsi Raymond Williams, "General state or habit of the mind, general state of intelectual development in a society or a whole". Disebutnya pula, "the general body of arts. A whole way of life, material, intelectual, spiritual".

Tambahan pemahaman yang diberikan Raymond Williams berguna untuk dicatat. Culture ada hubungannya dengan "tending of natural growth, a processs of human training". Lebih menarik lagi pemahamannya sebagai learned ways of behaving and adapting dan mengandung banyak unsur seperti ide, sentimen, nilai, obyek, tindakan, kecenderungan, akumulasi.

Kita perlu membahas pembangunan kebudayaan dikaitkan dengan upaya memperbaiki kemampuan. Kemampuan untuk apa? Untuk recovery, bangkit dari kondisi serba krisis dan kritis. Bangkit untuk memperbaiki kehidupan bersama. Bangkit untuk kesejahteraan, yakni kebebasan, keadilan, solidaritas.

Secara lebih eksplisit ketika tema besar "culture matters" dibicarakan dan diangkat pada seminar tingkat bangsa-bangsa-maksudnya adalah bahwa kebudayaan berperan untuk kemajuan, yakni kemajuan yang emansipatoris bagi beragam bidang kehidupan, seperti ekonomi, sosial, politik, hak asasi, kemanusiaan. Ketika kultur dihubungkan dengan kinerja dan prestasi kemajuan bangsa-bangsa, tolok ukurnya adalah kemajuan ekonomi, tetapi dalam konteks demokrasi. Kemajuan ekonomi salah satu fungsi dan ukurannya yang sentral.
Dianalisis lagi faham Max Weber tentang The Protestant Ethics and The Rise of Capitalism. Mengapa dibandingkan dengan mazhab lain, Calvinisme lebih mendorong kemajuan ekonomi? Mengapa mendorong kerja keras, kejujuran, kesungguhan, kesadaran dalam menggunakan waktu dan uang?

Ada semacam sikap yang rasional, yang teratur, yang ulet, dan yang produktif. Ada respek terhadap hak orang lain. Respek terhadap hukum. Proses hukum yang saksama, pada kebiasaan pengadilan Inggris juga bekas negara jajahannya mempercepat berlakunya due process of law, tegaknya hukum di pengadilan. Lawrence Harrison berbicara tentang perubahan dari static culture ke progressive culture. Ada sejumlah unsur dalam kultur yang progresif. Ialah orientasi akan masa depan, kerja adalah sentral untuk hidup yang baik, diperlukan frugality, hemat, pendidikan syarat kemajuan, jasa (merit) penopang kemajuan, diperlukan kepercayaan yang melebihi lingkungan keluarga.

Kode etik yang keras diperlukan untuk mencegah korupsi. Perlu keadilan dan fair play yang universal dan impersonal. Kekuasaan agar lebih horizontal dan tidak terkonsentrasi.
BAGAIMANA memperolehnya? Pendidikan ditempatkan pada posisi dan peran yang menentukan. Ada yang memandang pendidikan sebagai the civil religion of society, begitu penting, begitu harus dilaksanakan, secara serius.

Tersangkut di dalamnya pendidikan karakter, kepribadian, etika, pengetahuan kognitif, komunikasi, ilmu dan keahlian, kompetensi kultural dan nilai- nilai rohani.
Ditawarkan pula sebuah silogisme.
1. Kemajuan manusia dalam arti luas tak mungkin tercapai tanpa pertumbuhan ekonomi;
2. Bisnis yang berhasil merupakan mesin pertumbuhan ekonomi;
3. Karena itu bisnis diperlukan untuk kemajuan manusia.

Muncul persoalan comparative advantage atau competitive advantage. Bahan mentah atau hasil industri. Lagi-lagi diperlukan pelaku bisnis. Apalagi ini zaman ekonomi pasar.
Ekonomi makro diperlukan. Tapi harus juga disertai bekerjanya ekonomi mikro secara baik. Diperlukan competitive mindset.

Adalah benar pemerintah tetap berperanan. Pemerintah berperan lewat public policy. Pemerintah menciptakan iklim berfungsinya ekonomi pasar dan pelakunya. Pemerintah melakukannya dalam kerangka dan kewajiban terselenggaranya bonum publicum. Kesejahteraan umum.

Saya ingin mengakhiri Caveat, tentang negerinya, Guatemala, sosiolog Bernard Arevallo berkomentar: "We have the hardware of democracy but the software of Authoritarianism".
Pada kita ada tambahannya. Berlaku secara formal faham kekuasaan sistem demokrasi yang melayani. Tetapi masih disertai budaya feodal yang memandang kekuasaan sebagai privilese.
Indonesia menurut Corruption Perception Index (Transparancy International) tahun 1998 pada tangga korupsi berada pada tingkat ke-80, hanya kelima dari bawah di antara 85 negara. Indonesia parah korupsinya. Ada beberapa sebab. Masih berlakunya kultur feodal untuk kekuasaan. Berlakunya Afamilisme yang jelek serta masih berlanjutnya praktik kolusi.
Untuk memberantas korupsi dalam bentuk kolusi sebaiknya "Ekonomi Pasar" juga semakin diberi panggung terbuka. Di atas panggung terbuka itu pula para pelaku bisnis menjalankan pekerjaannya. Pekerjaan para pelaku bisnis sangat diperlukan. Bisnis penggerak pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi yang disertai distributive justice adalah sumber kemakmuran masyarakat.

Hadir dan bekerjanya bisnis serta pelakunya di panggung terbuka memperbesar transparansi. Transparansi menjauhkan kolusi, memperkuat praktik bisnis yang produktif dan etis. Juga membuat prevensi dan tindakan terhadap korupsi lebih jelas. Akhirnya sekali lagi ditegaskan: culture matters, untuk memperbaiki kemampuan yang ada dalam diri kita. Maka kita perlu mengembangkan bersama-kebudayaan yang sikap, nilai, dan praksisnya membangun kemajuan manusia.

Penulis: Jakob Oetama, Pemimpin Umum Kompas
Makalah dalam Koentjaraningrat Memorial Lecture I, Jakarta, 15 September 2004
Sumber: Kompas Online

Tidak ada komentar:

Posting Komentar